Review Film MONSTER HUNT (2015)

Geeks, tulisan ini sengaja dibuat, bertepatan dengan perayaan Imlek 2017, which is, rasanya ngga asyik kalo ngga ikutan hype dengan membuat review khusus. Yah, walaupun bukan film yang tergolong baru setidaknya isi cerita film ini lumayan mewakili semangat Imlek. Film layar lebar asal Hongkong ini mengambil genre fantasy berbalut komedi dengan memanfaatkan sebuah alternate world di mana manusia dan monster hidup secara berdampingan, walau sebetulnya hubungan antara manusia dan monster saat itu sedang kurang baik dikarenakan sifat serakah yang dimiliki manusia. Film yang bisa dikatakan unik ini sebenernya udah cukup lama nangkring di dalem koleksi gue, tapi baru sempet kemarin nonton (dan memang sengaja disempatkan biar review ini keluarnya di momen yang tepat). Gimana sih filmnya? Yuk, simak review film MONSTER HUNT (2015) ala gue berikut ini.

MONSTER HUNT (2015) sekali lagi, mengambil setting sebuah dunia di mana monster dan manusia hidup berdampingan. Namun, setelah perang di masa lalu, para monster tersingkir dan manusia menjadi penguasa dunia dan mulai bertindak semena-mena. Di masa kini, monster yang hidup dalam pengasingan berusaha mencari jalan agar dapat hidup damai dan berbaur dengan manusia. Di antara manusianya ada yang bekerja sebagai Monster Hunter, dan mereka dibagi-bagi levelnya berdasarkan tingkat kemampuan yang ditunjukkan dengan sejumlah koin yang tergantung di baju yang mereka pakai. Seperti namanya, tugas mereka adalah memburu para monster dan menjualnya kepada Dealer yang akan memasok mereka ke restoran-restoran, tentunya untuk dimasak dan dijadikan hidangan spesial bagi kalangan elit. Nah, fokus ceritanya ini ada pada petualangan Song Tianying, seorang pria bertampang lemah namun berhati lembut yang dititipi telur ratu monster yang sekarat dengan cara memindahkan telurnya ke perut Tianying melalui mulut (bayi monster yang ditakdirkan akan mengubah dunia dan berpengaruh dalam hubungan manusia dengan para monster di masa depan), dan seorang gadis hunter level 2 bernama Huo Xiaolan yang memiliki niat menjual bayi monster yang nanti dilahirkan Tianying. . Kebetulan Tianying  nggak punya tempat untuk kembali karena seluruh penduduk desa tempatnya tinggal ternyata adalah monster baik yang menyamar. Mereka dibawa pergi oleh para hunter dan rumah-rumah mereka dihancurkan. Di perjalanan, anak monster yang berada di perut Tianying pun lahir. Ternyata kelahiran tersebut telah membuat naluri orangtua Tianying terhadap sang anak monster tumbuh, begitu pun dengan Xiaolan, hingga akhirnya menjual sang anak monster bukan lagi perkara yang mudah, karena harus berkorban perasaan. Mereka pun segera berubah pikiran ketika tidak tega membayangkan nasib sang anak monster yang akan berakhir menjadi santapan kaum elit. Rencana penyelamatan pun segera mereka lakukan. Berhasil gak ya kira-kira?

From the Head Animator of Shrek and Visual Effect of Marvel Movies
Tulisan yang ada di posternya ini yang bikin gue penasaran. Terus gue crosscheck via IMDb, dan ternyata hasilnya jauh lebih mengagetkan. Memang ada nama  Manuel Almela sebagai head of animator-nya, yang (kalo kalian belom tau) dikenal dengan karya-karyanya seperti SHREK, KUNG FU PANDA (2008), KUNG FU PANDA 2 (2011), THE CROODS (2013), dan bahkan STAR TREK BEYOND (2016). Nggak heran kalo desain monster dan penampilannya punya ciri khas Dreamworks Animation. Ditambah lagi urusan visual effect ternyata digarap sama Charles Arulraj yang sering menggarap film superhero Marvel, seperti X-MEN franchise dan THE INCREDIBLE HULK (2008). Selain itu juga menggarap visual effect untuk film STAR WARS: THE FORCE AWAKENS (2015) dan banyak film-film box office lainnya.

Hasil dari pekerja kreatif di belakang layar ini adalah desain karakter monster yang lucu-lucu, berwarna-warni, lovable, dan unik banget walau gue melihat ada sedikit cita rasa kayak naga-naga di HOW TO TRAIN YOUR DRAGON atau bahkan POKÈMON versi 3D animation. Ditambah pergerakan makhluk-makhluknya yang begitu halus dan rapi. Interaksi dengan karakter manusianya juga dibuat dengan sangat rapi dan menyatu dengan baik. Untuk visual effect, kalian bakal menikmati banget kerennya efek-efek yang disajikan saat adegan pertarungan. The style of CGI suits the movie very well.



Awesome battle scenes
Walau sebetulnya inti cerita ini lebih berat ke elemen drama yang terbangun antara Tianying, Xiaolan dan anak monsternya yang dikasih nama Wuba, film ini cukup banyak menampilkan adegan aksi yang bisa terbilang sangat nendang dengan koreografi yang mantap. Bertarung antar sesama hunter, melawan monster, monster versus monster. Visual effect yang halus dan sangat menyatu dapat kita nikmati dengan jelas di sepanjang film. Kebayang kan bertarung melawan animasi 3D dengan gerakan kung fu cepat? Jurus-jurus elemen yang dilancarkan dengan visualisasi 3D yang mantap. Film ini berhasil menyajikannya dengan sangat baik, sangat rapi, dan memuaskan secara visual. Sayangnya gue ngga berkesempatan nonton film ini dalam format 3D karena gue yakin banget setiap adegan pertarungannya bakal terasa sangat nendang bila disaksikan dalam format 3D.

Sebagai tambahan, mungkin saat pertama kali melihat film ini, kita masih merasa penampakan karakter monster yang berlarian di hutan terasa kurang ngeblend dengan background yang notabene hutan sungguhan, gue sendiri ngeliat adegan pembuka jadi ngebayangin seandainya Pokemon dijadikan film live action yang paling greget ya model begini. Once you get used to the animation style, you will find this movie so awesome.

Good story development, very dramatic like Doraemon, but still comedic like Kung Fu Hustle
Formula cerita yang dipakai dalam film ini jujur bikin gue ketagihan. Alurnya maju terus dan berkembang. Dari konflik biasa yang gue pikir bakal gimana, taunya berkembang jadi luar biasa dan dengan plot twist yang cukup bikin gue nganga sambil ngakak. Yep, konfliknya serius, tapi dibawakan dengan adegan komedik yang kental, sangat komikal kayak Kung Fu Hustle, tapi juga ngasih elemen drama mengharukan kayak penutup cerita film-filmnya Doraemon the Movie. Not that tear jerking, tapi tetep lah mengharukan banget. Tokoh-tokohnya unik dan menarik. Gue sampe sekarang masih kebayang-kebayang interaksi Tianying dan Xiaolan yang kesannya kayak kebalik mana istri mana suami (mereka belom nikah sih di film ini). Xiaolan yang super galak, tomboy banget, tapi mendadak jadi manis kalo lagi ada maunya atau pas merasa dirinya sudah terikat batin sama Tianying. Sementara Tianying selalu sabar menjadi objek penderita. Chemistry antara keduanya terbangun dengan baik sampe bikin gue ngga bosen ngeliat interaksi mereka dalam satu frame, dialognya kocak.

Nggak banyak yang bisa gue jelasin kalo suatu film udah menarik hati dari segala sisi. Yang jelas secara cerita, film ini sangat mudah dipahami, alurnya mengalir, sederhana, namun tetep ada plot twist yang memuaskan. Film ini juga amat sangat aman dinikmati segala usia, menjadikannya cocok banget jadi film pilihan keluarga di kala liburan. Oh ya, beberapa adegan ada yang diisi dengan adegan musikal yang penyajiannya berasa banget gaya animasi Hollywood-nya, pemilihan lagunya juga asyik buat didengerin.

NB: I really looking forward for it's sequel. Katanya sih tahun 2018 dan bakal diramaikan sama Tony Leung. Maybe Wuba-nya udah gede.

Score: 9/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

2 komentar:

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team