Review Film RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011)

RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011) movie review by Glen Tripollo
Kemaren lagi santai di rumah, tau-tau adik sepupu gue ngajak nonton DVD film monyet. Pikiran gue langsung nangkep kalo maksudnya adalah film ini. Well, berhubung gue belum pernah nonton film pertamanya, terakhir kali ngecek langsung yang kedua, DAWN OF THE PLANET OF THE APES (2014), gue putuskan buat ikut nonton. Siapa tau beberapa pertanyaan di film keduanya itu bisa terjawab dengan nonton film ini. Sekalian ikut hype karena bentar lagi film ketiganya, WAR FOR THE PLANET OF THE APES (2017) bakalan segera rilis.

First of all, gue baru tau banget kalo pemain utama film ini adalah James Franco dan Freida Pinto (ke mana aja ya gue?), they're become a cute couple in this movie by the way. Tapi apakah Franco and Pinto bisa membuat film ini jadi keren? Yuk, simak review film RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011) ala gue berikut ini.

RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011) bercerita tentang Will Rodman (James Franco), seorang ilmuwan yang sedang mencari obat untuk menyembuhkan penyakit Alzheimer. Kebetulan ayahnya sendiri adalah salah satu penderitanya, jadi ngerti lah ya kenapa Will makin bersikeras untuk membuat obat tersebut. Obat yang dinamakan ALZ-112 dan diujicobakan pada simpanse. Salah satu simpanse setelah mengonsumsi obat tersebut mengalami perkembangan inteligensi yang tak terduga dan terus berkembang, namun karena suatu hal, simpanse tersebut memberontak dan terpaksa untuk ditembak mati di tempat. Simpanse ini punya anak, yang kemudian dirawat oleh Will hingga dewasa dan diberi nama Caesar (Andy Serkis). Dalam perkembangannya Caesar tumbuh semakin cerdas dan bertingkah laku layaknya manusia. Namun ketika Caesar yang sebetulnya memiliki niat baik untuk melindungi ayah Will dari labrakan tetangga yang sombong (walau caranya yang terlampau kasar), Caesar ditangkap dan ditahan di tempat penampungan simpanse (yang ternyata juga menjadi penyedia hewan percobaan bagi laboratorium tempat Will bekerja. Tak terima diperlakukan seperti itu, akhirnya Caesar membentuk sebuah klan bersama simpanse, orangutan, dan gorilla yang berada di sana untuk melakukan pemberontakan. Mengubah kota yang semula tenang dan damai menjadi hancur karena serangan membabi buta mereka. Nah, cerita lengkapnya kayak gimana, silahkan cari tau dengan menontonnya sendiri ya.

Buat kalian yang sama bingungnya kayak gue mengenai posisi film ini bila dibandingkan dengan film-film monyet pendahulunya, RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011) bisa dikatakan remake yang hanya sekedar mengambil nama Planet of the Apes saja. Secara isi keseluruhan, sama sekali ngga ada hubungannya (apakah sequel atau prequel) dengan PLANET OF THE APES (1968) dan juga cerita kelanjutannya, begitu pula PLANET OF THE APES (2001) yang betul-betul remake versi Tim Burton dari versi klasiknya. Jadi, ini adalah original retell dari Planet of The Apes, yang mana asal mulanya, konfliknya, dan setting-nya benar-benar berbeda dengan versi klasiknya. So, ngga perlu bingung lagi, karena kalian sama sekali ngga perlu nonton film monyet lainnya sebelum nonton film yang satu ini.

Very nice premise and story developments
Gue sendiri belom pernah nonton PLANET OF THE APES (1968) walaupun gue denger film tersebut banyak mendapatkan respon positif dan mendapatkan rating IMDb yang terbilang tinggi untuk ukuran science fiction movie. Nah, tapi gue yakin RISE OF THE PLANET OF THE APES (2011) pun nggak kalah menariknya dibandingkan film klasiknya. Gue ngga bahas soal CGI effect di bagian ini, karena gue pengen fokus sama isi ceritanya dulu. Gue ngerasa penggambaran awal bagaimana bisa sampai muncul simpanse-simpanse cerdas yang kemudian berusaha mengambil alih dunia manusia yang disajikan di film ini begitu believable alias masuk akal. Bagaimana sebuah obat yang sebenarnya dibuat untuk tujuan kebaikan ini mengalami ketidaksempurnaan dalam pengembangannya. Walaupun sempat berhasil dan memberikan efek yang begitu cepat pada manusia, tapi ternyata hal itu hanyalah sementara. Versi perbaikannya malah memberikan efek yang berbahaya bagi manusia, namun tidak bagi para kera.

Tapi bukan itu yang bikin gue bener-bener tertarik sama film ini, melainkan bagaimana kita, para manusia, diajak merenung dengan menggunakan trik psikologi terbalik. Memang pada kenyataannya di dunia kita, bukan hanya kera, tapi begitu banyak hewan yang sering kita perlakukan dengan semena-mena tanpa memikirkan dampaknya bagi kehidupan. Nah, lewat film ini akhirnya disajikanlah gambaran mengenai apa yang akan terjadi jika simpanse-simpanse yang sering menjadi obyek percobaan manusia dan disiksa sedemikian rupa menjadi sangat-sangat cerdas dan mampu berpikir untuk berkelompok dan merencanakan aksi besar untuk balik menyerang manusia.

Film ini, anehnya membuat kita jadi lebih bersimpati dengan para simpanse daripada kepada sesama manusia. Yah, emang sih manusia yang ditampakkan di film ini semuanya kejam, kecuali Will Rodman dan ayahnya. Tapi rasa simpati ini ngga lepas dari faktor cerita dan elemen drama yang disajikan di film ini. Caesar yang dirawat sejak kecil oleh Will, setelah tumbuh makin cerdas, ia mampu berpikir dan merasakan sakit hati atas perlakuan manusia terhadapnya. Caesar yang tidak pernah hidup bersama simpanse lainnya pun memiliki pikiran mungkin sesamanya jauh lebih baik ketimbang manusia. Well, konflik batin inilah yang nantinya bakal jadi premis utama sequel-nya, DAWN OF THE PLANET OF THE APES (2014).

Untuk pace cerita, sebetulnya agak sedikit terasa lambat di awal kisah karena masih fokus dengan perkembangan Caesar dari masih bayi hingga menjadi dewasa, namun interaksi Will dengan Caesar, penggambaran kondisi ayahnya, dan pertemuan Will dengan seorang dokter hewan, memberikan efek dramatis yang tak terduga. Chemistry antara Will dan Caesar memang bisa dikatakan sangat terasa. Cerita berkembang jadi seru dan agak cepat saat Caesar mulai merencanakan pemberontakan.

Awesome CGI effect
Ngga ada kata lain untuk menggambarkan kualitas CGI yang dipakai dalam film ini selain "awesome". Yah, mungkin belum sehalus THE JUNGLE BOOK (2016), tapi tingkat clean dan kehalusannya udah bisa dikatakan sangat mendekati. Walau simpanse di film ini jadi terlalu mirip manusia dibandingin simpanse beneran, mungkin karena sistem simpansenya diperankan manusia, sehingga keterbatasan gerakan menyerupai simpanse menjadi kendala (ketika masih di awal-awal cerita). Tapi bukan masalah sih, karena seiring perkembangan kecerdasan Caesar, gesture-nya pun kelamaan jadi persis manusia. Satu karakter yang paling gue suka dalam dunia permonyetan di film ini adalah Maurice si orangutan jantan. Oh yeah, say thanks to CGI team yang pernah mendapatkan Oscar lewat kinerja mereka untuk film AVATAR (2009) dan THE LORD OF THE RINGS trilogy.

Akhir kata gue bakal merekomendasikan franchise Planet of the Apes terbaru ini buat dijadikan hiburan keluarga. Yep, ngga ada adegan dewasa di sini, kecuali adegan James Franco kissing di tengah hutan sama Freida Pinto terus digangguin Andy Serkis (as Caesar tentunya), so bisa dikatakan aman buat dikonsumsi segala usia. Lovely story cenderung dramatis yang kemudian berubah jadi miris dan mengerikan. Ah, tenang aja, ngga ada adegan berdarah-darah di sini. Aksinya mild dan konfliknya bisa sangat mudah dimengerti sama anak-anak sekalipun. Kalo kalian suka simpanse, kalian bakal sangat terhibur dengan penampakan Caesar kecil yang menggemaskan. Sarat akan pesan moral juga agar kita sebagai manusia tidak berperilaku kasar terhadap hewan-hewan di sekitar kita.

NB: Tom Felton di sini pas banget memerankan tokoh menyebalkan tanpa harus teringat sama peran dia di franchise HARRY POTTER. Good job, Felton!

Score: 8,5/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team