Review Film GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017)

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017) movie review by Glen Tripollo
Ngeliat poster film yang rasanya seperti parodi tapi bukan, dikemas secara kreatif dengan menggabungkan unsur-unsur khas dari franchise Marvel, Star Trek, dan juga Star Wars (which is ngga terlalu mengejutkan berhubung semua franchise bertema luar angkasa ini masih digarap oleh studio produksi yang sama), plus nuansa 80's yang bercampur aduk dengan nuansa futuristik, gue makin excited buat ngecek sequel dari film GUARDIANS OF THE GALAXY (2014) karya sutradara James Gunn ini.

Kalo diinget-inget, memang sih film jebolan Marvel Cinematic Universe (MCU) yang paling bikin gue terpukau setengah mati baru film ini. Karena bagi gue, film ini berhasil menyingkirkan hal-hal yang terlalu mainstream dalam kisah superhero lainnya dan berhasil membawa nuansa baru yang bikin semangat dan pastinya bikin ngakak. Sama halnya dengan DOCTOR STRANGE (2016) yang menurut gue juga berhasil membawa nuansa segar di antara film-film Marvel lainnya. Nah, kebetulan gue berkesempatan buat ngecek langsung sequel-nya di bioskop. Jadi, buat kalian yang penasaran kayak gimana, yuk ikutin terus review film GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017) ala MovGeeks berikut ini.

GUARDIANS OF THE GALAXY VOL. 2 (2017) menceritakan kembali sekelompok galactic level fixers, seperti Star-Lord/Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoe Saldana), Rocket Raccoon (Bradley Cooper), Drax the Destroyer (Dave Bautista), dan Baby Groot (Vin Diesel). Mereka berkelana dari satu planet ke planet lain berdasarkan permintaan tolong penghuninya untuk menjalankan misi berbahaya. (dengan bayaran tentunya). Petualangan mereka kali ini berkaitan dengan rahasia keluarga Peter Quill yang diketahui adalah seorang alien. Namun, alien seperti apa yang menjadi ayah Quill akan membuat penonton (terutama yang bukan Marvel comic hardcore fans) merasa tercengang begitu mengetahuinya. Masalah tersebut membawa mereka terjebak di dalam sebuah planet Ego (Kurt Russell), planet yang memiliki pikiran sendiri, menjadikannya hidup dengan membawa ambisi untuk menjadi dewa yang menguasai semesta. Planet yang sanggup membuat banyak persona demi mengejar ambisinya tersebut. Petualangan tersebut mempertemukan mereka dengan Mantis (Pom Klementieff), alien berwujud manusia setengah serangga yang dapat mengakses perasaan di dalam diri makhluk-makhluk yang disentuhnya dan menjadikannya empati, dan juga kembalinya Yondu (Michael Rooker) dan Nebula (Karen Gillan) yang didorong oleh suatu hal, membuat mereka harus bertarung bersama para Guardians dan menyelamatkan semesta.




In-depth characters development
Berbeda dengan film pertamanya yang berfokus pada pertemuan para personilnya dan bekerja sama membasmi Ronan yang berniat berkuasa dengan memanfaatkan Power Stone, di sequel-nya lebih banyak membahas pendalaman karakter-karakternya, termasuk juga hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Seperti misalnya misteri mengenai masa lalu Star Lord dan siapa ayahnya. Bagaimana hubungan Star Lord dan Rocket yang belum bisa benar-benar akur. Gamora yang kembali menghadapi konflik pribadi dengan sang adik, Nebula, dari sini penonton disuguhkan sedikit kisah masa lalu mereka (walau tanpa flashback, cuma lewat dialog). Baby Groot yang haus tatih tayang dan bocah banget. Serta sedikit cerita mengenai masa lalu Drax dan sifatnya yang bener-bener unik terutama ketika ia bertemu dengan Mantis. Sebenernya masih banyak lagi masalah yang dibahas di sini, menjadikan film berdurasi 2 jam 18 menit ini begitu padat berisi, mengajak penonton lebih menyelami lagi background para karakternya dan mengenal mereka dengan lebih baik lagi, namun juga tidak menghilangkan unsur fun dan comical (sebagaimana ciri khas film ini di film perdananya). Pokoknya, beberapa pertanyaan khusus mengenai para karakternya yang belum sempat dibahas film pertamanya dikupas di sini dengan porsi yang menurut gue pas. Satu bagian pada character development yang paling gue suka di film ini adalah Yondu dan sedikit pengenalan tentang The Ravager yang ternyata punya bos besar yang diperankan oleh Sylvester Stallone.

Masih mempertahankan ciri khas
Mungkin ini yang paling bikin gue ngerasa puas. Kebanyakan sequel punya aura yang agak beda dengan film pertamanya, entah dengan maksud menjajal gaya baru atau memang flaw sang sutradara yang kena sindrom nggak bisa membuat sesuatu yang "senada" dengan film perdananya. Tapi, penyakit semacam itu memang lebih kerasa dan sering terjadi bilamana sequel digarap oleh sutradara yang berbeda. So, mempertahankan James Gunn untuk menggarap film keduanya ini gue rasa langkah yang bener-bener tepat. Gue suka karena beliau cukup konsisten dengan memasukkan unsur-unsur retro ke dalam film. Bisa dilihat dari pemilihan soundtrack yang enak-enak dan semuanya dateng dari era 80's, membuat generasi sekarang jadi melek musik-musik jadul, which is good karena kebanyakan lagu di jaman itu lebih enak-enak dan butuh lebih banyak perhatian. Selain soundtrack, ciri khas lain film ini yang berhasil dipertahankan adalah gaya penyampaian leluconnya yang fun, kadang agak garing, dan komikal abis. Tapi, semacam ada sihir tertentu yang mendorong penonton untuk terus senyum dan ketawa ngakak sekalipun joke yang disampaikan tergolong standar.



Element of surprises
Untuk ukuran film bertemakan superhero, film ini lumayan banyak menyisipkan plot twist yang terbilang menarik dan beberapa di antaranya cukup buat bikin kalian baper. Tapi bukan cuma plot twist yang bikin penonton merasa surprise ketika nonton, tapi juga beberapa adegan yang luar biasa nyelenehnya tapi kreatif dan bikin ngakak gak berenti-berenti. Misalnya, adegan yang banyak menyorot Baby Groot, atau adegan yang menitikberatkan fokus pada interaksi Star-Lord dan Rocket, atau Mantis dan Drax. Selain itu, film ini secara tak terduga juga memunculkan beberapa cameo, satu yang paling ga bisa lupa, padahal cuma muncul tiga detik yaitu David Hasselhoff. Sedangkan Stan Lee, seperti biasa, selalu tampil singkat namun gokil maksimal. Well, tentunya buat penggemar hardcore komik Marvel bakal menemukan lebih banyak lagi elemen kejutan di dalam film. Cukup banyak easter egg bertebaran dan yah sangat memuaskan.

Kesimpulannya, film ini lebih seru daripada film pertamanya karena menampilkan lebih banyak battle scene dan cerita yang lebih intriguing. Very very exciting. Buat pecinta musik lawas, tentunya juga bisa jadi bahan bernostalgia sambil dengerin soundtracknya. Film yang terbilang sangat aman untuk segala usia, jokes ringan dan adegan komikal bertebaran yang pastinya bakal disukain sama anak-anak hingga remaja, kecuali joke ala Rocket yang kadang bikin kening berkerut dulu, atau kegaringan Drax yang justru bikin kita jadi ketawa (tapi cuma orang-orang tertentu aja sih yang bisa ketawa gara-gara ini). Satu lagi, cuteness overload untuk  penampilan Baby Groot yang bakal disukain sama banyak orang. Satu-satunya kekurangan yang gue rasakan ketika nonton adalah, ekspresi kelewat serius Star-Lord, dan karakter Nebula yang kurang banyak dieksplor dan malah terkesan kayak ABG labil yang ga ngambek sama kakak karena dorongan hormon (baca: lagi PMS). Selebihnya, this franchise is still the best Marvel Cinematic Universe movie.

Most favorite scene:
Ketika Rocket, Baby Groot dan Yondu berusaha kabur dari kelompok The Ravager yang membelot. Oh, and that Taserface joke bikin ngakak setengah mati.

Score: 9/10

Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

0 komentar:

Posting Komentar

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team