Review Film KOE NO KATACHI -A SILENT VOICE- (2016)

KOE NO KATACHI -A SILENT VOICE- (2016) movie review by Glen Tripollo
Setelah KIMI NO NA WA (2016) mau nggak mau pandangan gue pun berubah terhadap rilisan-rilisan terbaru anime movie di Negeri Matahari Tersebut. Selain sering membawa kisah yang inspiratif, dari segi artwork pun jauh lebih berkualitas dan tergarap dengan serius dibandingkan anime series. So, perhatian gue selanjutnya mengarah pada anime movie yang satu ini. Sempet juga nge-hype di kalangan anime lovers yang berseliweran di dinding laman Facebook gue. "Ueno.. Ueno...," kata mereka. Who the hell is Ueno? Akhirnya, jadi penasaran sendiri dan nggak bisa nggak ngecek filmnya langsung. Sayangnya, gue nggak sempet nonton anime movie ini pas ditayangin di bioskop karena waktu penayangannya yang kelewat singkat dan sedikit. Yowislah, tanpa perlu banyak basa-basi lagi, yuk simak review film KOE NO KATACHI -A SILENT VOICE- (2016) ala gue berikut ini.

KOE NO KATACHI (2016) atau yang dikenal dengan judul internasional A SILENT VOICE (2016) mengangkat tema yang terbilang lagi marak di kalangan anak remaja usia sekolah dan menjadi social issue yang lagi digalakkan untuk diperangi. Yes, it's all about bullying and how it will affect their life afterwards. Diangkat dari sebuah manga berjudul sama karya Yoshitoki Ouima yang aslinya terdiri dari 7 jilid dan diterbitkan pertengahan tahun 2013 hingga 2014. Disutradarai oleh Naoko Yamada yang pastinya para anime lovers kenal dia lewat anime series K-ON! Ceritanya berfokus pada seorang bocah penindas bernama Shouya Ishida (Miyu Irino). Saat masih duduk di sekolah dasar, kelasnya kedatangan seorang murid baru, seorang cewek bernama Shouko Nishimiya (Saori Hayami) yang tuna rungu. Awalnya teman-teman sekelas Shouya bersikap baik dengan Shouko, namun kelamaan mereka merasa terganggu dan direpotkan dengan kekurangannya tersebut. Hal ini juga mendorong Shouya untuk ikut-ikutan bertingkah kasar dan mem-bully Shouko (tujuannya sudah pasti agar dirinya diperhatikan dan dianggap "keren" oleh teman-teman sekelasnya). Padahal yang diinginkan Shouko hanyalah mencari teman sebanyak-banyaknya yang mau memaklumi dan menerima segala kekurangan dirinya. Satu per satu teman yang semula dekat dengan Shouko pun menjadi incaran bully secara verbal, hingga merasa tak kuat mental dan memutuskan untuk ikut menjauhi Shouko.

Suatu ketika tindakan iseng Shouya terhadap Shouko semakin berlebihan hingga membuat cewek tersebut terluka cukup parah di bagian telinganya. Orangtua Shouko tak tinggal diam dan melaporkan tindak pem-bully-an tersebut kepada guru dan membuat Shouya terpojok karena hampir semua temannya menunjuk dirinya seorang yang melakukan penindasan. Sejak saat itu, perlakuan teman-temannya terhadap Shouya pun berubah. Shouya mendapatkan sanksi sosial dan menjadi korban bullying. Dia dijauhi temannya, bahkan harus menjalani hari-hari sekolahnya di jenjang berikutnya dalam kesendirian. Hal tersebut membuat Shouya merasa trauma dan menyesal, hingga ke tingkat depresi berat yang sempat mendorongnya untuk melakukan tindakan bunuh diri saat ia duduk di bangku SMA. Namun, pertemuan kembali Shouya dengan Shouko pada saat itu telah memberikan tujuan baru. Shouya ingin melakukan sesuatu untuk menebus segala kesalahannya di masa lalu terhadap Shouko, dan bila mampu, ia ingin mempersatukan semua teman-temannya di masa SD kembali. Namun, kenyataan tak semudah yang diharapkannya. Shouko mungkin mau memaafkan Shouya, namun berusaha mempersatukan kembali teman-temannya itu adalah perkara lain yang sangat sulit untuk dilakukan. Terlebih dengan kondisi mental Shouya sendiri yang masih menutup diri dan merasa takut untuk menatap orang-orang di sekitarnya. Well, bagaimana kisah ini berlanjut bisa kalian tonton sendiri ya! Hehehe.


Let's start with the characters
Selain Shouya dan Shouko yang menjadi sorotan utama di anime ini, karakter-karakter pendukung lainnya memiliki suatu "masalah" kepribadian masing-masing yang mana menjadi hal yang menarik banget buat diikutin perkembangannya. Ada Naoka Ueno (Yuuki Kaneko) yang sebetulnya bagi gue pribadi adalah karakter cewek tercantik yang ada di anime ini. Dia punya perasaan sama Shouya dan cemburu membabi buta dengan Shouko yang mendorongnya untuk bertindak menyebalkan dan kurang ajar. Terus ada Miki Kawai (Megumi Han) yang sebetulnya kelihatan seperti cewek kalem yang cerdas, namun ternyata terlalu munafik dan akan melakukan segala cara (terlebih dalam ucapannya) agar dirinya terhindar dari masalah atau dari rasa dipermasalahkan oleh orang di sekitarnya. Dan masih banyak lagi karakter lainnya yang nggak kalah menarik. Salah satu tokoh pendukung yang bikin cerita makin dinamis adalah keberadaan adik cewek Shouko yang tomboi bernama Yuzuru (Aoi Yuuki), dan begitu perhatian dengan segala masalah kakaknya. Dialah yang membuat kisah Shouko dan Shouya semakin hidup dengan segala konflik yang datang. Sedangkan kunci dari elemen komedi yang ada di sini adalah kehadiran Tomohira Nagatsuka (Kenshou Ono) yang koplak dengan penampakannya yang gemuk dan pendek namun narsis (agak delusional juga sih, tapi dia setia kawan), padahal aslinya di sekolah dia adalah cowok cupu yang sama-sama tidak memiliki teman seperti Shouya. Bahkan, kedinamisan konflik antara para remaja ini makin diperpanas dengan konflik antar orangtua Shouko dan Shouya.


Kalo ngomongin soal desain karakter secara visual, gaya gambarnya memang terkesan kurang nendang, namun secara keseluruhan animasinya, sangat detail, ditambah sinematografi yang keren dan permainan ekspresi yang bakal bikin suasana dalam cerita tersampaikan dengan baik sekali ke dalam pikiran dan perasaan penonton.

Pesan moral yang disampaikan sangat bagus untuk dijadikan bahan renungan para remaja kekinian
Nah, ini adalah elemen terpenting dari sebuah cerita yang ditujukan untuk remaja. Khususnya soal bullying yang kerap terjadi belakangan ini di sekolah-sekolah, anime ini menggambarkan dengan sangat jelas sebuah tindakan bullying itu adalah perilaku yang sangat buruk bahkan bisa mempengaruhi kehidupan (baik pelaku maupun korban) di masa depan. Shouya yang mengalami depresi hingga ke tingkat yang mengerikan, hingga sampai ingin bunuh diri. Ini bisa juga dijadikan bahan referensi buat para orangtua dalam memperhatikan tingkah laku anak-anaknya yang masih sekolah. Gue pribadi nggak merasa kalau konflik di dalam cerita ini terlalu ekstrim, karena menurut gue, hal demikian memang bisa benar-benar terjadi, berhubung belakangan juga ada banyak sekali berita-berita tentang remaja yang melakukan bunuh diri dengan alasan serupa. Anime ini secara tegas dan elegan menyatakan pesan untuk berhenti melakukan bullying dan hidup dengan lebih menghargai semua orang yang ada di sekitar kita tidak peduli bagaimana pun kondisi atau kekurangan yang mereka miliki. Berhubung artwork dan tema yang diangkat sangat bagus, gue berharap para orangtua nggak sering-sering ngasih stereotype bahwa anime adalah tayangan untuk anak-anak saja. Cobalah jadi orangtua yang keren, buka hati buka pikiran, dan tonton film ini. Gue yakin nggak bakalan nyesel kok.

Ini Ueno, jangan tertipu sama muka imutnya

Terlepas dari tema berat yang menyelubungi
Inti dari kisah ini tetap saja masih berciri khas remaja, yaitu teen romance yang manis dan bikin baper. Beberapa kali Shouya dan Shouko dipertemukan dalam sebuah adegan yang memancing perasaan para penonton. Berawal dari kebencian, penindasan, lalu muncul penyesalan, melakukan pendekatan kembali untuk berusaha melakukan perubahan, yang mulanya bersikap kasar berubah jadi sikap ingin melindungi. Dari sana muncul sebuah perasaan di antara keduanya. Ini soal menerima kekurangan dan mau memaafkan.

Ah, by the way, gue nemu lumayan banyak artikel di Internet yang membahas in-depth dari sudut pandang psikologi soal sifat dan kepribadian para karakter anime ini. Dan bahasannya rata-rata sangat menarik. Coba deh dicek! Hahaha.

Akhir kata, gue sangat merekomendasikan anime ini sebagai anime yang sangat menginspirasi dan memberikan pelajaran berharga mengenai kehidupan tentunya dengan cara yang sangat menarik dan tanpa ada kesan menggurui siapa pun.

My Most Favorite Scene:
Adegan di mana Shouko sampe mengubah penampilannya dan berusaha ngomong langsung tanpa pakai "buku komunikasi" untuk mengutarakan perasaannya pada Shouya, yang malah berakhir dengan kesalahpahaman karena kesulitan Shouko untuk mengucapkan dengan jelas perbedaan kata "suki" dan "tsuki".

Score: 9,2/10


Share on Google Plus

Review by Glen Tripollo

1 komentar:

Halo, Sobat MovGeeks! Kalau kamu udah pernah atau pun belum menonton film ini, silakan sampaikan pendapatnya di kolom komentar, ya. Pergunakan bahasa yang sopan, tidak SARA atau mengandung pornografi. Dimohon juga untuk tidak meninggalkan link aktif, karena berpotensi SPAM.

Terima kasih ^__^)//

MovGeeks Team